Reaksi seseorang terhadap makanan bersifat individual. Artinya setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap makanan yang sama. Pada tulisan ini akan diulas secara umum rekasi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang secara garis besar dikelompokan menjadi dua yaitu alergi makanan dan intoleransi makanan.
Alergi makanan melibatkan respon sistem kekebalan tubuh terhadap komponen makanan. Sayangnya respon tersebut menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan dan menimbulkan berbagai keluhan. Ada dua jenis reaksi alergi makanan yaitu jenis yang pertama merupakan rekasi cepat, biasanya terjadi dalam 60 menit setelah makan. Jenis ini ditandai oleh kulit yang kemerahan dan gatal, gangguan pencernaan dan yang paling berat bisa syok. Makanan yang sering dituduh menyebabkan ini adalah ikan, kerang, udang kacang-kacangan, telur, susu dan bery.
Jenis yang kedua adalah reaksi lambat, biasanya terjadi dalam satu sampai dua hari setelah makan. Gejalanya hampir sama dengan yang reaksi cepat tetapi berat ringannya gejala tergantung jumlah makanan yang dimakan. Gejala akan berkurang sendiri dengan berkurangnya konsumsi makanan penyebab. Jenis makanan biasanya yang mengandung susu, tepung, cokelat, cola, jagung, telur, daging (sapi, babi, ayam), kacang-kacangan, tomat, jeruk, mentimun dan bawang putih.
Intoleransi terhadap makanan menimbulkan efek negatif melalui mekanisme yang berbeda. Disini tidak ada aktifitas sistem kekebalan tubuh tetapi terdapat pengeluaran enzim-enzim dalam tubuh yang memberikan gejala seperti gejala akibat efek obat. Gejala yang muncul biasanya bervariasi dari hitungan jam hingga beberapa hari, ditandai dengan sakit kepala, migren, gemetar, berkeringat dan berdebar-debar. Gejala lain yang juga sering dtemui adalah diare dan gangguan konsentrasi. Jenis makanan dan minuman yan menjadi penyebab adalah kopi, teh, cokelat, keju, pisang, ekstrak ragi dan beberapa jenis penyedap rasa seperti MSG.
Menegakkan diagnosis alergi makanan atau intoleransi makanan tidaklah gampang. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah riwayat pasien, pengamatan klinis, riwayat makanan yang di konsumsi dan pemeriksaan penunjang. Yang paling sering dilakukan adalah chalenge test dengan memberikan makanan atau komponen makanan yang dicurigai. Cara lain adalah eliminasi atau pengurangan jumlah makanan yang dicurigai kemudian diamati gejala klinisnya. Tes laboratorium untuk alergi dan intoleransi makanan seperti RAST dan skin test memiliki sensitifitas atau ketepatan yang sangat rendah dan sering memberikan informasi yang salah tentang kondisi pasien. Sehingga dalam menegakkan diagnosis yang paling baik adalah dengan mengkombinasikan riwayat makanan, pengamatan klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Obat yang paling baik bagi penderita alergi dan intoleransi makanan adalah menghindari makanan penyebab apabila sudah diketahui. Biasakan membaca label produk makanan untuk mengetahui kandungannya, sehingga bisa mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan bagi mereka yang sensitif terhadap makanan.
Tulisan ini hanya gambaran umum saja, kalau ada yang ingin didiskusikan sehubungan dengan sensitifitas terhadap makanan disilahken.
Sumber: bacaan minggu ini
Briggs DR, Lennard LB. Food Sensitivities. In Wahlqvist ML. Ed. Food and Nutrition – Australia, Asia and the Pacific. Sydney: Allen&Unwin Pty Ltd, 1997;425-33
Baca Selengkapnya >>